Menjalankan perintah (al-awamir) dan menjauhi larangan (an-nawahi) dalam Islam tidak semata dinilai dari banyaknya amal atau rapinya tampilan ibadah. Islam lebih dalam dari itu: Allah menilai hati, niat, dan keteguhan langkah seorang hamba. Karena itulah, dua pilar yang menyempurnakan amal seorang Muslim adalah keikhlasan dan kesinambungan (istiqamah).
1) Keikhlasan: Ruh dari Setiap Amal
Keikhlasan adalah memurnikan niat ibadah hanya untuk Allah semata, bukan karena ingin dipuji, dilihat manusia (riya’), atau mengejar keuntungan dunia.
Amal yang tampak besar bisa menjadi sia-sia bila kehilangan ruh ini.
Allah Ta’ala menegaskan:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya….” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan makna “amal terbaik” dalam ayat “Ayyuhum ahsanu ‘amala”: amal yang paling murni (ikhlas) dan paling benar (sesuai tuntunan).
Jika ikhlas tapi tidak sesuai Sunnah, tidak diterima. Jika sesuai Sunnah tapi tidak ikhlas, tetap tidak diterima.
Ini menunjukkan bahwa keikhlasan bukan pelengkap, melainkan syarat utama diterimanya amal.
2) Istiqamah: Menjaga Amal Tetap Hidup
Setelah niat diluruskan, perjalanan iman harus dijaga dengan istiqamah: konsisten dalam ketaatan dan terus menjauhi maksiat, bukan hanya saat semangat memuncak, tetapi sepanjang usia. Istiqamah menjadikan iman stabil, tidak mudah naik-turun mengikuti suasana hati.
Allah memerintahkan keteguhan itu:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka beristiqamahlah… sebagaimana diperintahkan kepadamu….” (QS. Hud: 112)
Beban istiqamah begitu besar hingga diriwayatkan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa surah Hud dan semisalnya membuat beliau beruban—sebuah isyarat bahwa konsistensi di jalan Allah adalah perjuangan besar, bukan perkara ringan.
Nabi ﷺ juga menuntun umatnya untuk memilih amal yang rutin:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan: lebih baik amalan kecil namun terjaga—seperti membaca Al-Qur’an satu halaman setiap hari, sedekah walau sedikit tapi rutin, atau menjaga salat sunnah yang ringan—daripada ibadah berat yang hanya bertahan sebentar lalu hilang.
Buah Manis Istiqamah
Orang yang meneguhkan iman dan amalnya diberi kabar gembira oleh Allah:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka… dan bergembiralah dengan surga….” (QS. Fushshilat: 30)
Istiqamah adalah jalan ketenangan: hati tidak mudah goyah, jiwa lebih mantap, dan tujuan akhir semakin jelas.
Keikhlasan menentukan kualitas amal—diterima atau ditolak. Istiqamah menentukan keberlangsungan amal—hidup atau terputus.
Maka seorang Muslim perlu terus mengevaluasi niatnya dan memilih amal yang sedikit namun konsisten, sambil memohon pertolongan Allah agar diberi hati yang ikhlas dan langkah yang teguh sampai akhir hayat.
![Pimpinan Cabang Muhammadiyah [PCM] Bantul](https://pcmbantul.id/wp-content/uploads/2023/10/pcm-bantul.png)
