Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: mengapa kita begitu sibuk mengejar sesuatu yang pasti kita tinggalkan?
Kita mengumpulkan harta, membangun rumah, mengejar jabatan, menjaga nama baik, dan menikmati berbagai kesenangan. Semua itu tidak salah. Namun, ada satu kenyataan yang sering kita lupakan: tidak ada satu pun kenikmatan dunia yang akan kita bawa selamanya.
Usia akan berakhir. Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan dilepaskan. Rumah akan ditempati orang lain. Bahkan tubuh yang selama ini kita jaga pun suatu saat akan kembali menjadi tanah.
Lalu, untuk apa semua itu?
Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang sebenarnya.
Allah ﷻ berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, berbangga-banggaan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Perumpamaannya adalah seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”(QS. Al-Hadid: 20)
Allah menggambarkan dunia seperti tanaman yang tumbuh karena hujan. Awalnya hijau, indah, dan menyenangkan mata. Tetapi setelah beberapa waktu, tanaman itu menguning, mengering, kemudian hancur.
Masa muda berubah menjadi tua. Kekuatan berubah menjadi kelemahan. Kekayaan bisa hilang. Popularitas dapat dilupakan. Apa yang hari ini membuat kita bangga, suatu saat mungkin tidak lagi berarti.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang fana dan akan berakhir, sedangkan akhirat pasti datang.
Maka masalahnya bukan memiliki dunia, tetapi ketika dunia memiliki hati kita.
Dunia Bukan untuk Ditinggalkan, Tetapi untuk Dijadikan Bekal
Islam tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia dan menjadi manusia yang tidak produktif. Justru Allah berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini memberikan keseimbangan yang indah.
Kita boleh bekerja. Kita boleh memiliki rumah. Kita boleh menikmati makanan yang halal. Kita boleh mencari ilmu, membangun usaha, memiliki cita-cita dan menikmati berbagai nikmat Allah.
Tetapi semuanya harus diarahkan kepada Allah.
Harta bukan masalah selama harta berada di tangan, bukan menguasai hati. Jabatan bukan masalah selama jabatan digunakan untuk amanah. Ilmu bukan masalah selama ilmu membawa manfaat.
Dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati kita.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa apa yang Allah berikan kepada manusia hendaknya digunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh bekal untuk akhirat, sementara bagian yang halal dari kehidupan dunia tetap boleh dinikmati.
Semua Akan Berakhir, Hanya Allah yang Kekal
Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”(QS. Ali ‘Imran: 185)
Perhatikan kalimat Allah: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
Tidak ada pengecualian.
Yang kaya akan mati. Yang miskin akan mati. Yang terkenal akan mati. Yang tidak dikenal pun akan mati. Orang yang memiliki rumah besar maupun yang hidup sederhana, semuanya akan meninggalkan dunia.
Karena itu, ukuran keberhasilan yang sesungguhnya bukanlah berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi berapa banyak amal yang kita persiapkan untuk menghadap Allah.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kemenangan yang sebenarnya adalah ketika seseorang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
Jadilah Musafir di Dunia
Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat dalam:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia seakan-akan engkau orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Bukhari )
Seorang musafir tidak akan membangun seluruh kehidupannya di tempat persinggahan. Ia mengambil bekal secukupnya, menikmati perjalanan dengan baik, tetapi hatinya tetap mengingat tujuan.
Begitulah seharusnya seorang mukmin menjalani kehidupan.
Bekerjalah, tetapi jangan lupa Allah.
Carilah harta, tetapi jangan kehilangan akhirat.
Nikmati dunia, tetapi jangan tertipu olehnya.
Bangunlah kehidupan, tetapi jangan lupa mempersiapkan kepulangan.
Dunia Adalah Jalan, Bukan Tujuan
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa dunia adalah tempat untuk menyeberang dan berlalu, bukan tempat untuk menetap selamanya. Beliau menggambarkannya sebagai دار عبور لا دار سرور — tempat persinggahan, bukan tempat tinggal yang kekal.
Kalimat ini seharusnya mengubah cara kita memandang kehidupan.
Ketika memperoleh harta, jangan hanya bertanya:
“Apa yang bisa saya beli?”
Tetapi tanyakan:
“Apa yang bisa saya lakukan dengan harta ini untuk mendapatkan ridha Allah?”
Ketika mendapatkan jabatan, jangan hanya bertanya:
“Apa yang bisa saya dapatkan?”
Tetapi tanyakan:
“Apa amanah yang harus saya tunaikan?”
Ketika mendapatkan ilmu, jangan hanya bertanya:
“Seberapa pintar saya?”
Tetapi tanyakan:
“Siapa yang bisa mendapatkan manfaat dari ilmu saya?”
Inilah cara menjadikan dunia sebagai ladang akhirat.
RENUNGAN: APA YANG AKAN KITA BAWA?
Suatu hari nanti, kita akan meninggalkan semua yang selama ini kita cintai.
Harta tetap tinggal. Rumah tetap berdiri. Kendaraan tetap terparkir. Jabatan akan digantikan. Nama kita perlahan mungkin dilupakan.
Tetapi ada sesuatu yang ikut bersama kita: amal.
Maka jangan sampai kita terlalu sibuk memperindah rumah, tetapi lupa memperindah amal. Jangan sampai kita begitu serius mengumpulkan kekayaan, tetapi lupa mengumpulkan bekal untuk perjalanan yang jauh.
Dunia ini memang indah, tetapi keindahannya sementara.
Akhirat mungkin belum terlihat oleh mata, tetapi ia pasti datang.
Maka nikmatilah dunia dengan cara yang Allah ridai. Gunakan harta untuk kebaikan. Gunakan usia untuk ibadah. Gunakan ilmu untuk memberi manfaat. Gunakan jabatan untuk melayani. Gunakan kesehatan sebelum datang sakit. Dan gunakan kehidupan sebelum kematian datang.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan:
“Berapa banyak yang telah kita miliki?”
Tetapi:
“Berapa banyak yang telah kita siapkan untuk kehidupan yang kekal?”
Jika dunia ini pasti berakhir, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang tidak pernah berakhir?
Semoga Allah menjadikan dunia berada di tangan kita, bukan di hati kita; menjadikan setiap nikmat sebagai jalan menuju syukur; setiap harta sebagai sarana kebaikan; setiap usia sebagai kesempatan beramal; dan menjadikan akhir perjalanan kita sebagai kemenangan: dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ خَيْرًا لَنَا مِنَ الدُّنْيَا، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ.
Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami. Jadikanlah akhirat lebih baik bagi kami daripada dunia, dan karuniakanlah kepada kami akhir kehidupan yang baik.
![Pimpinan Cabang Muhammadiyah [PCM] Bantul](https://pcmbantul.id/wp-content/uploads/2023/10/pcm-bantul.png)