Masjid adalah tempat yang paling mulia di sisi Allah. Di sanalah seorang hamba menguatkan iman, membersihkan hati, dan memperbaiki hidupnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا
“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.”
Karena itu, ketika seseorang melangkahkan kaki ke masjid, sesungguhnya ia sedang mendekat kepada tempat yang paling Allah cintai. Di masjid, hati yang keras bisa menjadi lembut, jiwa yang lalai bisa menjadi sadar, dan orang yang jauh dari Allah bisa mulai kembali mendekat.
Di antara amalan paling mulia yang dilakukan di masjid adalah mencari ilmu. Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia agar dapat membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang diridhai Allah dan yang dimurkai-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
Majelis ilmu bukan sekadar tempat menambah pengetahuan, tetapi juga tempat memperbaiki hati. Sebab akar masalah manusia sering kali bukan karena kurang cerdas, melainkan karena hatinya sakit. Hati yang sehat akan mudah menerima nasihat, mudah tunduk kepada Al-Qur’an, dan mudah takut kepada Allah. Karena itu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata:
لَوْ طَهَرَتْ قُلُوْبُنَا، مَا شَبِعَتْ مِنْ كَلَامْ اللهِ
“Sekiranya hati kita ini bersih, tidaklah ia akan jemu membaca Al-Qur’an.”
Kalimat ini mengajarkan bahwa jika hati benar-benar bersih, maka ia tidak akan bosan dengan firman Allah. Sebaliknya, jika hati mudah bosan dari Al-Qur’an, berat menghadiri majelis ilmu, dan ringan melakukan dosa, berarti ada penyakit yang sedang tumbuh di dalamnya.
Manusia sering kali sibuk lahiriah memperbagus penampilan, menambah kedudukan, dan mengumpulkan harta duniawi, namun alpa dalam memperhatikan kondisi hatinya. Padahal, dosa-dosa besar yang tampak di permukaan—seperti pembunuhan, kezaliman, kecurangan, dan permusuhan—tidaklah muncul secara tiba-tiba. Setiap maksiat bermula dari penyakit batin yang terlebih dahulu bersemayam dan tumbuh subur di dalam jiwa.
Ulama besar Damaskus, Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, merumuskan dalam kitab monumental beliau, Al-Fawa’id, bahwa seluruh kemaksiatan, kejelekan, dan kerusakan manusia berakar pada tiga penyakit utama hati: kesombongan (al-kibr), ketamakan (al-hirsh), dan kedengkian (al-hasad). Memahami ketiga akar dosa ini merupakan pilar utama dalam pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan benteng pertahanan seorang mukmin dari kebinasaan dunia dan akhirat.
Dalam kitab Al-Fawa’id (halaman 58), Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan pokok dan akar segala kejelekan manusia sebagai berikut:
Kalam Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (Al-Fawa’id, hlm. 58)
Para ulama menjelaskan bahwa banyak dosa besar maupun kecil ternyata bersumber dari penyakit hati. Karena itu, kita tidak cukup hanya memerangi dosa yang tampak, tetapi juga harus mengenali akar yang menumbuhkannya. Dalam isi lampiran disebutkan bahwa menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, sumber segala macam dosa kembali kepada tiga perkara: sombong, tamak, dan dengki. Siapa yang selamat dari tiga penyakit ini, maka ia akan selamat dari banyak keburukan.
Kalam Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (Al-Fawa’id, hlm. 58)
أُصُوْلُ الخَطَايَا كُلِّهَا ثَلَاثَةٌ: الكِبْرُ وَهُوَ الَّذِي أَصَارَ إِبْلِيْسَ إِلَى مَا أَصَارَهُ، وَالحِرْصُ وَهُوَ الَّذِي أَخْرَجَ آدَمَ مِنَ الجَنَّةِ، وَالحَسَدُ وَهُوَ الَّذِي جَرَّأَ أَحَدَ ابْنَيْ آدَمَ عَلَى أَخِيْهِ. فَمَنْ وُقِيَ شَرَّ هٰذِهِ الثَّلَاثَةِ فَقَدْ وُقِيَ الشَّرَّ، فَالكُفْرُ مِنَ الكِبْرِ، وَالمَعَاصِي مِنَ الحِرْصِ، وَالبَغْيُ وَالظُّلْمُ مِنَ الحَسَدِ
Artinya: “Pangkal seluruh perbuatan dosa (kesalahan) ada tiga hal: (1) Kesombongan, yang menyebabkan Iblis menjadi seperti sekarang (terkutuk); (2) Ketamakan (ambisi/kerakusan), yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari surga; dan (3) Dengki (hasad), yang mendorong salah satu putra Adam membunuh saudaranya. Barangsiapa yang terbebas dan dilindungi dari keburukan tiga perkara ini, sungguh ia telah terlindung dari seluruh kejelekan. Sebab: Kekafiran berasal dari kesombongan, kemaksiatan berasal dari ketamakan, sedangkan sikap melampaui batas dan kezaliman berasal dari dengki.”
Penyakit yang pertama adalah sombong. Inilah penyakit Iblis, yang membuatnya menolak perintah Allah. Sombong bukan hanya merasa hebat, tetapi juga menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
Karena itu, orang yang sombong biasanya sulit dinasihati, sulit mengakui kesalahan, dan mudah merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Bahayanya sangat besar, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar semut kecil.”
Maka obat sombong adalah tawadhu’, mawas diri, dan menyadari bahwa semua kelebihan hanyalah titipan Allah. Kita berasal dari tanah, hidup dalam kelemahan, dan pada akhirnya akan kembali ke tanah. Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri.
Penyakit yang kedua adalah tamak atau rakus. Sifat inilah yang menjadi sebab Nabi Adam ‘alaihis salam tergelincir keluar dari surga. Tamak membuat seseorang selalu merasa kurang, selalu ingin lebih, dan akhirnya mudah melanggar batas-batas Allah. Dari tamak lahir banyak maksiat: mengejar harta dengan cara haram, menuruti syahwat, berbuat curang, dan mengabaikan halal-haram. Karena itu, obat tamak adalah qana’ah, merasa cukup dengan pemberian Allah, serta husnuzan bahwa rezeki setiap hamba telah diatur oleh-Nya dengan sebaik-baiknya.
Penyakit yang ketiga adalah dengki atau hasad. Inilah penyakit yang membuat salah satu anak Adam membunuh saudaranya sendiri. Dengki adalah rasa tidak senang melihat orang lain mendapat nikmat, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Dari dengki lahirlah kezaliman, permusuhan, fitnah, dan rusaknya persaudaraan. Orang yang dengki tidak akan tenang, karena hatinya sibuk menghitung nikmat orang lain dan lupa mensyukuri nikmat dirinya sendiri. Obat penyakit ini adalah syukur, ridha terhadap pembagian Allah, dan melatih hati untuk mendoakan kebaikan bagi sesama.
Betapa bahayanya meremehkan dosa, sebab dosa kecil yang dianggap ringan bisa menjadi besar di sisi Allah. Karena itu para ulama salaf sangat keras dalam mengingatkan bahaya dosa. Dalam lampiran disebutkan perkataan Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah:
وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ.
“Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.”
Maka seorang muslim hendaknya tidak sibuk hanya melihat dosa-dosa lahiriah, tetapi juga membersihkan sumbernya di dalam hati. Bila hati dibersihkan dari sombong, tamak, dan dengki, maka banyak pintu dosa akan tertutup dengan sendirinya. Sebaliknya, bila tiga penyakit ini dibiarkan hidup, maka hati akan semakin gelap dan dosa akan semakin mudah dilakukan.
Karena itu, marilah kita memakmurkan masjid, menghadiri majelis ilmu, memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan memohon kepada Allah agar membersihkan hati kita. Sebab orang yang hatinya bersih akan lebih mudah menerima kebenaran, lebih mudah merasa cukup, dan lebih mudah bersyukur atas nikmat Allah. Semoga Allah menjaga kita dari kesombongan, tamak, dan dengki, serta menghiasi hati kita dengan iman, tawadhu’, qana’ah, dan syukur. Aamiin.
![Pimpinan Cabang Muhammadiyah [PCM] Bantul](https://pcmbantul.id/wp-content/uploads/2023/10/pcm-bantul.png)