Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan membawa dua potensi, yaitu akal dan nafsu. Sebagai makhluk yang tidak ma’shum (terjaga dari dosa), tidak ada seorang pun di antara kita yang terbebas dari kesalahan dan khilaf. Setiap hari kita berbuat dosa, baik dosa yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Namun, di balik kelemahan manusia tersebut, Allah SWT membuka jalan keselamatan yang sangat agung, yaitu Taubat Nasuha.

Bertaubat memiliki urgensi dan keutamaan yang amat dahsyat bagi kehidupan seorang Muslim:

  1. Pembersih Jiwa dan Penenang Hati
  2. Sebab Mendapatkan Cinta Allah SWT
  3. Pembuka Pintu Rezeki dan Keberkahan
  4. Syarat Utama Diterimanya Ibadah

Bahaya Menunda Taubat (Sikap Taswif)

Perangkap terbesar setan bukanlah membisikkan agar manusia tidak bertaubat sama sekali, melainkan membisikkan sikap taswif (menunda-nunda taubat) dengan berkata: ‘Nanti saja’, ‘Besok masih ada waktu’, atau ‘Tunggu tua nanti’. Padahal menunda taubat menyimpan bahaya yang sangat membinasakan:

  1. Kematian Datang Tanpa Peringatan
  2. Hati Menjadi Gelap dan Keras
  3. Hilangnya Kepekaan Rasa Bersalah (Meremehkan Dosa
  4. Pintu Taubat Terkunci Saat Sakaratul Maut
  5. Dosa Menunda Adalah Dosa Tersendiri

Perintah Bertaubat Murni (Taubat Nasuha) — QS. At-Tahrim [66]: 8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya (taubat nasuha), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Nabi SAW bersabda : Manusia Terbaik Adalah yang Banyak Bertaubat — HR. At-Tirmidzi & Ibnu Majah

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Artinya: “Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang banyak bertaubat.”

Batas Waktu Penerimaan Taubat Sebelum Sakaratul Maut — HR. At-Tirmidzi

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).”

Mutiara Hikmah dari  Para Ulama tentang Bahaya Menunda Taubat

  1. Imam Al-Hasan al-Basri Rahimahullah (Peringatan Sikap Taswif)

إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيفَ، فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدِكَ، فَإِنْ يَكُنْ لَكَ غَدٌ فَكُنْ فِي غَدِكَ كَمَا كُنْتَ فِي يَوْمِكَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ غَدٌ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِي الْيَوْمِ

Artinya: “Jauhilah olehmu sikap taswif (menunda-nunda beramal dengan berkata ‘nanti saja’). Sesungguhnya engkau berada di hari ini, bukan di hari esok. Jika engkau memiliki hari esok, maka beramallah di hari esok sebagaimana engkau beramal hari ini. Namun jika engkau tidak memiliki hari esok, engkau tidak akan menyesali kelalaianmu hari ini.”

Imam Al-Hasan al-Basri Rahimahullah (Sebab Kerasnya Hati)

مَا جَفَّتِ الدُُّمُوعُ إِلَّا لِقَسْوَةِ الْقُلُوبِ، وَمَا قَسَتِ الْقُلُوبُ إِلَّا لِكَثْرَةِ الذُُّنُوبِ

Artinya: “Air mata tidak menjadi kering melainkan karena kerasnya hati, dan hati tidak menjadi keras melainkan karena banyaknya dosa.”

  • Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah (Menunda Taubat Adalah Dosa Baru)

فَوْرِيَّةُ التَّوْبَةِ وَاجِبَةٌ عَقِيبَ الذَّنْبِ، وَتَأْخِيرُهَا ذَنْبٌ آخَرُ يَجِبُ التَّوْبَةُ مِنْهُ

Artinya: “Segera bertaubat adalah kewajiban setelah melakukan dosa. Tidak diperbolehkan menundanya. Kapan pun seseorang menundanya, maka ia telah melakukan dosa baru karena penundaan tersebut, dan ia wajib bertaubat dari penundaan itu!”

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah (Kedudukan Taubat)

التَّوْبَةُ أَوَّلُ مَنَازِلِ السَّائِرِينَ وَأَوْسَطُهَا وَآخِرُهَا

Artinya: “Taubat adalah awal perjalanan seorang hamba menuju Allah, pertengahannya, sekaligus akhir perjalanannya.”

  • Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali Rahimahullah (Perumpamaan Menunda Taubat)

مَثَلُ الْمُؤَخِّرِ لِلتَّوْبَةِ مَثَلُ مَنْ يَحْتَاجُ إِلَى قَلْعِ شَجَرَةٍ فَرَآهَا قَوِيَّةً فَقَالَ: أُؤَخِّرُهَا سَنَةً، وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ الشَّجَرَةَ كُلَّمَا بَقِيَتْ زَادَتْ قُوَّةً، وَهُوَ كُلَّمَا كَبِرَ زَادَ ضَعْفًا

Artinya: “Perumpamaan orang yang menunda taubat adalah seperti orang yang ingin mencabut sebuah pohon besar. Ia dapati pohon itu sangat kuat dan kokoh, lalu ia berkata: ‘Aku tunda tahun depan saja untuk mencabutnya.’ Padahal ia tahu, semakin lama pohon itu tumbuh akarnya semakin kuat, sedangkan fisiknya sendiri justru semakin melemah.”

Imam Al-Ghazali Rahimahullah (Bahaya Kesengsaraan Akhir Hidup)

فَالذُُّنُوبُ تُمِيتُ الْقَلْبَ وَتُورِثُ الشَّقَاوَةَ، وَأَوَّلُ أَمْرِ إِبْلِيسَ وَبَلْعَامَ كَانَ ذَنْبًا ثُمَّ انْتَهَى إِلَى الْكُفْرِ

Artinya: “Bahaya menunda taubat adalah timbulnya kesialan dan kesengsaraan. Ketahuilah bahwa awal mula perkara Iblis dan Bal’am bin Ba’ura adalah dosa kecil yang ditunda, hingga berakhir dengan kekufuran dan kebinasaan abadi.”

  • Imam Qatadah bin Di’amah al-Sadusi Rahimahullah (Menjauh dari Ampunan)

اِعْلَمُوا أَنَّ كُلَّ تَأْخِيرٍ فِي التَّوْبَةِ خَطْوَةٌ بَعِيدَةٌ عَنْ مَغْفِرَةِ اللهِ، وَمَنْ أُخِّرَتْ تَوْبَتُهُ حَتَّى بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ فَلَا تَوْبَةَ لَهُ

Artinya: “Ketahuilah bahwa setiap penundaan dalam taubat adalah satu langkah menjauh dari ampunan Allah. Dan barang siapa menunda taubat hingga nyawanya di kerongkongan, maka tidak ada lagi taubat baginya.”

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (Kebutuhan Mutlak Hamba)

فَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَظُنَّ اسْتِغْنَاءَهُ عَنِ التَّوْبَةِ إِلَى اللهِ وَالاسْتِغْفَارِ مِنَ الذُُّنُوبِ، بَلْ كُلُّ أَحَدٍ مُحْتَاجٌ إِلَى ذَلِكَ دَائِمًا

Artinya: “Tidak ada seorang pun yang dapat merasa cukup tanpa taubat kepada Allah dan istighfar dari dosa-dosanya. Sebab, setiap hamba senantiasa membutuhkan taubat kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya setiap waktu.”

  • Imam Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah (Taubat Pendusta)

اسْتِغْفَارٌ بِلَا إِقْلَاعٍ تَوْبَةُ الْكَذَّابِينَ

Artinya: “Istighfar yang hanya di lisan tanpa dibarengi dengan berhenti dari perbuatan dosa adalah taubatnya para pendusta.”

  • Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu (Kelembutan Hati Orang Bertauabat)

اجْلِسُوا مَعَ التَّوَّابِينَ، فَإِنَّهُمْ أَلْيَنُ أَفْئِدَةً

Artinya: “Duduklah kalian bersama orang-orang yang gemar bertaubat, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang memiliki hati paling lembut.”

ISyarat-Syarat Taubat Nasuha dan Langkah Konkret

Agar taubat yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT dan menjadi Taubat Nasuha (taubat yang jujur dan murni), para ulama seperti Imam An-Nawawi dan Imam Al-Ghazali merumuskan empat syarat utama yang harus dipenuhi:

  1. Menyesali Perbuatan Dosa (An-Nadam).

Rasulullah SAW bersabda: ‘النَّدَمُ تَوْبَةٌ’ (Penyesalan itu adalah inti taubat).

  • Meninggalkan Kemaksiatan Seketika (Al-Iqla’).

Langsung berhenti total dari perbuatan dosa tersebut saat itu juga tanpa menunda-nunda lagi.

  • Bertekad Kuat Tidak Mengulangi (Al-‘Azm).

Memiliki komitmen dan niat yang teguh di dalam batin untuk tidak pernah kembali melakukan dosa yang sama di masa depan.

  • Menyelesaikan Hak Sesama Manusia (Muzhalim al-‘Ibad).

 Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain (seperti zalim, mencuri, ghibah), maka wajib mengembalikan haknya, meminta maaf, atau meminta kehalalan darinya.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيْئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي؛ وَخَطَئِي وَعَمْدِي؛ وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


Allahummaghfirli khathi’ati wajahli, wa israfi fi amri, wa ma anta a’lamu bihi minni. Allahummaghfir li jiddi wa hazli, wa khatha’i wa ‘amdi. Wa kullu dzalika ‘indi. Allahummaghfirli ma qadamtu wama akhkhartu, wama asrartu, wama a’lantu, wama anta a’lamu bihi minni antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru, wa anta ‘alakulli syai’in qadirun.

Artinya: Tuhanku, ampunilah kekeliruan dan kebodohanku, kelewatanbatasku dalam sebuah hal, dan dosaku yang mana Kau lebih tahu dariku. Tuhanku, ampunilah dosaku dalam serius dan gurauanku, kekeliruan dan kesengajaanku. Apa pun itu semua berasal dariku. Tuhanku, ampunilah dosaku yang terdahulu dan terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan kunyatakan, dan dosa yang mana Kau lebih tahu dariku. Kau maha terdahulu. Kau maha terkemudian. Kau maha kuasa ata segala sesuatu. (HR Bukhari dan Muslim).

اَللّٰهُمَّ طَوِّـلْ عُمُوْرَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَقَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

Allaahumma thowwil umuurona, wa shohhih ajsaadana, wa nawwir quluubana, wa sabbit iimaananaa wa ahsin a’maalanaa, wa wassi’ arzaqonaa, wa ilal khoiri qorribnaa wa ‘anisy-syarri ab’idnaa, waqdhikhawaa-ijana fiddiini waddunyaa wal aakhirati innaka ‘alaa kulli syai-in qodiir.

“Ya Allah, panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam agama, dunia, dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

admin

By admin

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *