Bantul — Kecemasan dan kekhawatiran telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Di tengah dunia yang semakin bising oleh tuntutan, ketidakpastian, dan tekanan hidup, umat Islam diajak kembali menjadikan Al-Qur’an dan zikir sebagai sumber ketenangan jiwa.

Pesan itu disampaikan Ustaz Dr. Mhd. Lailan Arqam, M.Pd., dalam Pengajian Ahad Legi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bantul di Masjid A.R. Fachruddin, SMA Muhammadiyah 1 Bantul, Ahad (11/10/2026).

Dalam pengajian tersebut, Ustd. Arqam mengingatkan bahwa kecemasan yang berlebihan tidak selalu membawa seseorang lebih dekat pada penyelesaian masalah. Sebaliknya, kekhawatiran yang tidak terkendali dapat membuat seseorang kehilangan kejernihan berpikir dan memandang segala sesuatu secara negatif.

“Dunia ini semakin bising oleh berbagai hal yang membuat jiwa gelisah dan dipenuhi kekhawatiran. Karena itu, kita perlu memiliki pegangan agar tetap tenang dalam menghadapi kehidupan,” menjadi pesan utama yang disampaikan dalam pengajian tersebut.

Menurut dia, manusia perlu memandang persoalan secara lebih luas, tidak semata-mata dari besarnya masalah yang sedang dihadapi. Keyakinan kepada Allah menjadi landasan untuk menjaga ketenangan sekaligus menemukan jalan keluar.

Ustd. Arqam menjelaskan, Al-Qur’an memberikan petunjuk agar manusia tidak larut dalam kecemasan. Salah satu pesan penting terdapat dalam Surah ar-Ra’d ayat 28 yang menegaskan bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.

Zikir, menurut dia, bukan sekadar melafalkan kalimat-kalimat tayibah. Zikir perlu dihayati sehingga menghadirkan kesadaran bahwa Allah senantiasa menjadi tempat bersandar dalam setiap keadaan.

“Zikir dapat memulihkan jiwa yang remuk. Ketika seseorang mengingat Allah dengan sungguh-sungguh, jiwanya menjadi lebih tenang dan mampu melihat persoalan dengan perspektif yang berbeda,” demikian inti pesan yang disampaikan Lailan.

Ia menjelaskan, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi kecemasan melalui zikir dan penguatan keyakinan kepada Allah.

Pertama, memutus rantai ilusi dan keinginan mengendalikan segala sesuatu. Manusia perlu menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya. Ada kekuatan Allah yang mengatur alam semesta dan kehidupan manusia. Kesadaran tersebut bukan berarti manusia berhenti berusaha. Sebaliknya, keyakinan kepada Allah membantu seseorang membedakan hal-hal yang dapat diupayakan dan hal-hal yang perlu diserahkan kepada-Nya.

Kedua, menggeser fokus dari besarnya masalah menuju kemungkinan solusi. Persoalan yang tampak besar sering kali terasa semakin berat ketika seseorang terus-menerus memusatkan perhatian pada ketakutannya. Dengan mengingat Allah, seseorang diajak membangun cara pandang yang lebih jernih dan mencari jalan keluar secara bertahap.

Ketiga, membuka diri terhadap pertolongan Allah. Keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa menjadi sumber kekuatan ketika manusia menghadapi keterbatasan. Doa, zikir, ikhtiar, dan tawakal perlu berjalan beriringan. Lailan mengingatkan bahwa kekuatan spiritual dapat mengubah cara seseorang menghadapi persoalan. Masalah tidak serta-merta hilang, tetapi beban yang dirasakan dapat menjadi lebih ringan ketika hati dipenuhi keyakinan dan pikiran diarahkan pada upaya penyelesaian.

Dalam pengajian itu, Ustd. Arqam juga mengingatkan bahwa rezeki yang diberikan Allah kepada manusia bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Rezeki semestinya menjadi kekuatan bagi manusia untuk menjalankan perannya sebagai abdullah atau hamba Allah dan khalifah di bumi.

Karena itu, manusia perlu menempatkan ikhtiar secara proporsional. Ada hal-hal yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, tetapi ada pula perkara yang tidak dapat dipaksakan sesuai keinginan manusia.

Ustd. Arqam mencontohkan kecemasan yang dapat dialami seorang ibu selama kehamilan. Keinginan menjaga kehamilan merupakan sesuatu yang wajar, tetapi kecemasan yang berlebihan justru dapat membebani pikiran dan mengganggu ketenangan.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara kewaspadaan, ikhtiar, dan penyerahan diri kepada Allah. Manusia tetap berkewajiban melakukan usaha terbaik tanpa harus terjebak dalam kekhawatiran terhadap segala kemungkinan yang belum terjadi.

Pada bagian penutup, Ustd. Arqam mengaitkan ketenangan jiwa dengan etos perjuangan Muhammadiyah. Menurut dia, semangat Islam Berkemajuan perlu diwujudkan melalui pribadi yang tenang, tekun berikhtiar, dan tidak kehilangan harapan ketika menghadapi kesulitan.

Ia mengangkat keteladanan KH Ahmad Dahlan dalam memperjuangkan pendidikan. Ketika menghadapi persoalan pembayaran gaji guru-guru madrasah, pendiri Muhammadiyah itu rela menjual perabotan rumah tangganya demi menjaga keberlangsungan pendidikan. Kisah tersebut menggambarkan bahwa keyakinan kepada Allah tidak membuat seseorang pasif menunggu pertolongan. Sebaliknya, keyakinan harus melahirkan keberanian mengambil tindakan dan kesediaan berkorban untuk kepentingan yang lebih besar.

Dalam kehidupan bermasyarakat, etos itu juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa tetangga, membantu orang yang membutuhkan, dan menghadirkan kesejukan bagi lingkungan sekitar. Kepedulian sosial menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kebaikan. Seseorang tidak hanya berusaha menenangkan dirinya sendiri, tetapi juga membantu mengurangi beban orang lain.

Pengajian Ahad Legi PCM Bantul itu pun mengingatkan bahwa ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan tumbuh ketika manusia mampu memadukan zikir, ikhtiar, kepedulian sosial, dan tawakal. Dengan menjadikan Allah sebagai sandaran, umat diharapkan tetap teguh menghadapi ketidakpastian, sekaligus terus berusaha menghadirkan manfaat bagi sesama. Inilah salah satu wujud etos Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam Berkemajuan: menguatkan jiwa, menggerakkan ikhtiar, dan menebarkan kemaslahatan.

admin

By admin

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *