Sahabat, kita semua tahu dan sepakat bahwa ampunan Allah itu teramat luas, bahkan melampaui luasnya langit dan bumi. Namun, pernahkah kita merenung sejenak, jangan-jangan ada sikap atau perilaku kita yang justru menjadi dinding tebal yang menghalangi runtuhan ampunan tersebut?
Para ulama terdalam lewat kitab-kitab mereka telah memetakan dengan sangat jeli apa saja hal-hal yang bisa menahan ampunan Allah bagi seorang hamba. Mari kita bedah bersama lembaran nasihat mereka agar kita bisa mawas diri.
1. Al-Mujaharah (Terang-terangan dalam Maksiat)
Sering kali yang membuat dosa sulit diampuni bukan sekadar besar kecilnya tindakan tersebut, melainkan hilangnya rasa malu kepada Allah. Ketika seseorang bangga memamerkan dosanya, di situlah tirai ampunan tertutup.
Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan fenomena ini dalam mahakaryanya, Fathul Bari:
وَإِنَّمَا يُتْرَكُ الْعَفْوُ عَنِ الْمُجَاهِرِ؛ لِأَنَّهُ اسْتَخَفَّ بِحَقِّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَبِصَالِحِي الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Sesungguhnya pengampunan itu tidak diberikan kepada orang yang terang-terangan (berbuat dosa); karena ia telah meremehkan hak Allah, Rasul-Nya, serta kaum mukminin yang saleh.”
(Kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
2. Asy-Syahna’ (Menyimpan Dendam dan Permusuhan)
Hubungan kita dengan manusia ternyata berdampak langsung pada hubungan kita dengan Allah. Sifat pendendam, gemar bertengkar, dan enggan memaafkan sesama muslim adalah salah satu penahan utama turunnya ampunan, terutama di waktu-waktu mulia seperti malam Nisfu Sya’ban atau hari Senin dan Kamis.
Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali menuliskan peringatan yang sangat indah dalam kitabnya:
الْمَغْفِرَةَ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ قَدْ تَمْنَعُهَا مَوَانِعُ، وَمِنْ أَعْظَمِ تِلْكَ الْمَوَانِعِ: الشَّحْنَاءُ وَالْهَجْرَانُ لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya: “Ampunan (di waktu-waktu utama) terkadang terhalang oleh beberapa penghalang. Dan di antara penghalang terbesar adalah: Asy-Syahna’ (kebencian/permusuhan) dan memutuskan hubungan dengan sesama muslim.”
(Kitab Lathaif Al-Ma’arif fima Liiyam Al-‘Aam minal Wazhaif)
3. Al-Ishrar (Terus-menerus Berdosa Tanpa Berniat Tobat)
Menumpuk dosa kecil tanpa ada rasa penyesalan sama berbahayanya dengan melakukan dosa besar. Sikap meremehkan dan terus-menerus hanyut dalam kemaksiatan inilah yang membuat hati menjadi keras dan mengunci datangnya maghfirah (ampunan).
Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi meringkas perkara ini dengan sangat lugas:
وَاعْلَمْ أَنَّ الْإِصْرَارَ عَلَى الذَّنْبِ يُعَظِّمُ الصَّغِيرَةَ، وَيَمْنَعُ صِحَّةَ التَّوْبَةِ إِذَا لَمْ يُقْلِعْ عَنْهَا
Artinya: “Ketahuilah bahwa terus-menerus dalam dosa akan membuat dosa kecil menjadi besar, dan hal itu menghalangi sahnya tobat jika ia tidak segera menghentikannya.”
(Kitab Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin)
![Pimpinan Cabang Muhammadiyah [PCM] Bantul](https://pcmbantul.id/wp-content/uploads/2023/10/pcm-bantul.png)