Bantul — Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul, Ustadz H. Aris Samsugito, S.Ag., mengungkapkan bahwa Al-Qur’an memiliki ayat yang dapat menjadi pegangan umat Islam untuk mengobati stres dan kegelisahan hidup. Hal tersebut ia sampaikan dalam Kajian Subuh di Masjid Nurul Hidayah Karanggayam pada Jumat (13/03/2026).
Dalam kajian tersebut, Ustadz Aris menjelaskan bahwa salah satu ayat yang menjadi pegangan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Hadid ayat 22–23.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap peristiwa yang terjadi di bumi maupun yang menimpa manusia telah tertulis dalam ketentuan Allah sebelum terjadi.
Ayat 22: Mā aṣāba mim muṣībatin fil-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābim min qabli an nabra’ahā, inna żālika ‘alallāhi yasīr.
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”
Ayat 23: Likailā ta’saw ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥū bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr.
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Menurut Ustadz Aris, memahami dan memegang teguh ayat tersebut dapat membantu seseorang terhindar dari stres. Sebab, segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia pada hakikatnya telah menjadi ketentuan Allah.
“Kalau seseorang memegang ayat ini, insyaallah tidak akan stres. Apa pun kejadian di dunia yang dialami manusia sudah ada ketentuannya dari Allah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan agar manusia tidak berputus asa atau kehilangan harapan ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan. Di balik setiap takdir Allah selalu terdapat hikmah yang mungkin belum diketahui manusia.
Dalam kajian itu, Ustadz Aris juga menyampaikan ilustrasi tentang seekor burung yang senantiasa bertasbih kepada Allah. Burung tersebut dengan tekun membangun sarangnya dari ranting demi ranting sambil berkicau.
Setelah sarang itu selesai dan terasa nyaman, suatu hari angin kencang datang dan menerbangkan sarang tersebut hingga rusak. Burung itu pun merasa kecewa dan berhenti bertasbih.
Melihat hal tersebut, malaikat menegur burung tersebut dan menanyakan alasan ia berhenti bertasbih. Burung itu menjawab bahwa ia kecewa karena sarangnya hancur.
Malaikat kemudian menjelaskan bahwa sarang yang nyaman itu justru membuat burung terlena, padahal ada seekor ular yang sedang mendekati sarangnya untuk memangsa. Angin yang menerbangkan sarang tersebut merupakan cara Allah menyelamatkan burung dari bahaya.
Mendengar penjelasan itu, burung pun menyadari kesalahannya, memohon ampun kepada Allah, dan kembali bertasbih dengan penuh rasa syukur.
“Hal yang tidak menyenangkan belum tentu buruk bagi manusia. Bisa jadi justru di situlah Allah menyimpan kebaikan yang besar,” jelas Ustadz Aris.
Ustadz Aris juga mengingatkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 216 yang menyebutkan bahwa manusia boleh jadi membenci sesuatu padahal hal tersebut baik baginya, dan menyukai sesuatu padahal justru buruk baginya.
Menurutnya, hal terbaik bagi manusia adalah apa yang telah dipilihkan oleh Allah. Sikap kufur nikmat bisa muncul ketika seseorang merasa semua keberhasilan hanya berasal dari jerih payahnya sendiri hingga menimbulkan kesombongan.
Sebagai penutup, Ustadz Aris menegaskan bahwa ayat-ayat tersebut mengajarkan umat Islam untuk selalu berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah terhadap setiap takdir yang terjadi.
“Dengan berdoa, disertai ikhtiar, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah, insyaallah hati akan menjadi tenang dan manusia tidak akan mudah stres,” pungkasnya.
![Pimpinan Cabang Muhammadiyah [PCM] Bantul](https://pcmbantul.id/wp-content/uploads/2023/10/pcm-bantul.png)
