Bantul — Puasa Ramadhan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi kesehatan jiwa. Hal ini disampaikan oleh Ustadzah dr. Widea Rossi Desvita, Sp.Kj. dalam Kajian Ramadhan Ahad Pagi yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bantul di Masjid AR Fachrudin Muhiba, Ahad (8/3/2026).
Dalam kajian tersebut, dokter spesialis kejiwaan itu menjelaskan bahwa manusia hidup dengan menggunakan otak sebagai pusat pengendali perilaku. Namun dalam kehidupan sehari-hari masih banyak orang yang tidak memanfaatkan akal secara optimal sehingga memunculkan perilaku yang tidak sehat.
Menurutnya, puasa menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental sekaligus melatih pengendalian diri. Ia menjelaskan bahwa puasa dapat membantu mengurangi gangguan jiwa seperti kecemasan dan depresi.
“Puasa tidak hanya meningkatkan ketakwaan, tetapi juga membantu memperbarui sel-sel otak yang berperan dalam perubahan perilaku,” ujarnya.
Ia menambahkan, Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat untuk membangun kebiasaan baru yang lebih baik. Ketika seseorang berhasil menjalankan puasa dengan baik, maka akan muncul dorongan untuk meningkatkan amal ibadah lainnya.
Setelah Ramadhan, kebiasaan baik tersebut perlu dijaga dengan istiqamah sehingga pada akhirnya menjadi bagian dari karakter kehidupan seorang muslim.
Dalam kajian tersebut, dr Widea juga mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan pribadi paling dermawan, terutama pada bulan Ramadhan. Kedermawanan beliau bahkan diibaratkan seperti angin yang berhembus begitu cepat dan luas manfaatnya.
Menurutnya, perilaku dermawan dan kepedulian sosial juga menjadi bagian penting dari kesehatan jiwa seorang Muslim.
Ia kemudian memaparkan beberapa ciri jiwa yang sehat menurut perspektif Islam.
Pertama, jiwa yang sehat akan terbebas dari ketegangan dan kecemasan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 menjelaskan bahwa hati akan menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Kedua, jiwa yang sehat ditandai dengan kasih sayang kepada sesama. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa kesempurnaan iman seseorang terlihat dari kecintaannya kepada saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Hal senada juga ditegaskan dalam hadis riwayat Abu Dawud yang berbunyi, “Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”
Ketiga, jiwa yang sehat terbebas dari dosa dan rasa bersalah. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Di akhir kajian, dr Widea menegaskan bahwa menjaga kesehatan jiwa membutuhkan kesabaran dalam berbagai kondisi kehidupan.
Ia menjelaskan tiga bentuk kesabaran yang perlu dimiliki seorang muslim, yakni sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, serta sabar dalam menghadapi takdir Allah.
Jamaah juga diingatkan untuk menularkan nilai-nilai kehidupan yang bersumber dari Alquran dan Sunnah kepada anak cucu. Menurutnya, tantangan media sosial pada masa kini perlu dihadapi dengan sikap bijak dengan menyaring informasi yang benar.
“Puasa adalah sarana untuk meningkatkan kesehatan jiwa. Mari kita refleksi diri, apakah jiwa kita sudah sehat atau belum,” ujarnya menutup kajian.
![Pimpinan Cabang Muhammadiyah [PCM] Bantul](https://pcmbantul.id/wp-content/uploads/2023/10/pcm-bantul.png)
