Bantul – Ustadz Dr. M. Nurdin Zuhdi, M.S.I. Ketua Majelis Tabligh PCM Bantul mengingatkan umat Islam tentang bahaya kesombongan dalam beribadah serta pentingnya menjaga keikhlasan selama bulan Ramadhan. Pesan tersebut disampaikan dalam kajian menjelang salat tarawih di Masjid Nurul Hidayah Karanggayam, Sabtu (14/03/2026).

Dalam tausiyahnya, Ustadz Nurdin menyampaikan bahwa para ulama telah merangkum tanda-tanda amalan yang diterima oleh Allah SWT. Ia menegaskan bahwa terdapat tiga hal penting yang dapat menjadi indikator diterimanya ibadah seorang muslim selama bulan Ramadhan.

Pertama, seorang muslim hendaknya selalu merasa takut jika amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT. Menurutnya, rasa khawatir ini justru merupakan tanda keimanan dan kerendahan hati di hadapan Allah.

Ia mencontohkan doa Nabi Ibrahim yang memohon agar amalnya diterima Allah:

Rabbanā taqabbal minnā, innaka antas-samī‘ul-‘alīm.

Artinya: “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan doa agar seorang muslim memperoleh amal yang diterima:

Allahumma innii as’aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”

Kedua, tanda diterimanya ibadah Ramadhan adalah dimudahkannya seorang hamba untuk terus melakukan amal saleh setelah Ramadhan berakhir. Ustadz Nurdin menjelaskan bahwa jika selama Ramadhan seseorang ringan menjalankan salat fardu, salat sunah, tadarus Al-Qur’an, maupun puasa, maka setelah Ramadhan kebiasaan ibadah tersebut seharusnya tetap terasa ringan dilakukan.

“Misalnya setelah Ramadhan seseorang masih mudah menjalankan puasa sunah di bulan Syawal atau tetap menjaga salat dan tilawah Al-Qur’an,” jelasnya.

Ketiga, tidak memamerkan amal ibadah seolah-olah menjadi orang yang paling saleh. Ia mengingatkan bahwa riya’ atau memperlihatkan amal kepada orang lain dapat merusak nilai ibadah.

Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun ayat 60:

Walladzîna yu’tûna mâ âtaw wa qulûbuhum wajilatun annahum ilâ rabbihim râji’ûn.

Artinya: “Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah, zakat, kebaikan) dengan hati penuh rasa takut, karena mereka sadar bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.”

Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang mukmin melakukan kebaikan dengan hati yang bergetar dan penuh rasa takut. Rasa takut itu muncul karena kesadaran akan keterbatasan manusia serta kekhawatiran jika amal baik yang dilakukan tidak diterima oleh Allah SWT.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Nurdin juga mengisahkan cerita sufistik yang masyhur tentang Syekh Abu Yazid al-Busthami. Dalam kisah itu diceritakan bahwa suatu ketika Abu Yazid mengangkat jubahnya agar tidak terkena najis seekor anjing. Namun secara simbolik, anjing tersebut menegurnya bahwa najis fisik dapat disucikan, sedangkan najis kesombongan di dalam hati tidak mudah dibersihkan.

Anjing itu digambarkan menyatakan bahwa dirinya hanya berserah diri kepada Sang Pencipta, sementara manusia terkadang terjebak dalam kesombongan spiritual.

Menurut Ustadz Nurdin, kisah tersebut mengandung pelajaran mendalam tentang bahaya kesombongan dan kesalehan yang hanya tampak secara lahiriah tanpa diiringi kerendahan hati.

“Kesombongan dalam ibadah bisa menggugurkan amalan yang telah dilakukan,” tegasnya.

Di akhir kajian, ia kembali mengingatkan jamaah agar tidak merasa bangga atau sombong dengan amal yang telah dilakukan, karena sikap tersebut dapat merusak nilai ibadah di hadapan Allah SWT.

admin

By admin

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *