Bantul – Jamaah Masjid Nurul Hidayah Karanggayam memadati Lapangan MTsN 4 Bantul untuk menunaikan Shalat Idul Adha 1447 H, Rabu (27/5/2026). Momentum hari raya kurban tersebut tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga refleksi mendalam tentang tantangan mendidik generasi muda di tengah derasnya arus zaman.

Bertindak sebagai imam dan khotib, Ustadz Anggit Nurochman, M.Pd., Ketua Majelis Dikdasmen PCM Bantul, mengawali khutbah dengan mengajak jamaah bersyukur atas nikmat iman dan kesempatan melaksanakan Shalat Idul Adha.

Ustadz Anggit Nurochman, M.Pd., Ketua Majelis Dikdasmen PCM Bantul menyampaikan khotbah setelah selesai sholat Idul Adha.

Ia mengingatkan bahwa ketakwaan akan menghadirkan keberkahan hidup. Allah SWT, kata dia, menjanjikan jalan keluar, rezeki yang tidak disangka-sangka, serta derajat yang tinggi bagi hamba-Nya yang bertakwa.

Dalam khutbahnya, Ustadz Anggit juga menyoroti maraknya kasus penganiayaan yang melibatkan remaja dan pemuda di sejumlah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bahkan hingga menyebabkan korban meninggal dunia.

“Kondisi ini menjadi keprihatinan bersama. Jangan sampai bonus demografi yang akan dialami Indonesia pada 2035 justru melahirkan generasi cemas, bukan generasi emas,” ujarnya.

Menurut dia, Indonesia akan memasuki era dominasi usia produktif pada 2035. Karena itu, pendidikan keluarga menjadi pekerjaan besar yang harus dipersiapkan sejak sekarang.

Ustadz Anggit mengutip Surat An-Nisa ayat 9 yang mengingatkan umat Islam agar tidak meninggalkan generasi dalam keadaan lemah, baik secara ekonomi, mental, maupun iman. Ayat tersebut menjadi peringatan penting agar umat Islam mencetak generasi yang kuat dalam akidah, ibadah, akhlak, ilmu, dan ekonomi.

“Hal ini harus menjadi perhatian bersama. Mendidik anak tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan dunia, tetapi juga harus menguatkan iman dan akhlaknya,” katanya.

Ia menjelaskan, Idul Adha mengajarkan nilai keikhlasan, pengorbanan, dan pendidikan keluarga melalui keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam mendidik Nabi Ismail AS.

Menurutnya, ada beberapa prinsip penting dalam membangun generasi tangguh. Pertama, pendidikan dengan keteladanan. Orang tua harus menjadi contoh dalam ketakwaan dan kejujuran.

Kedua, mendidik anak dengan dialog dan kasih sayang. Nabi Ibrahim memberikan teladan dengan berkomunikasi kepada Nabi Ismail ketika menerima perintah Allah SWT.

“Anak membutuhkan komunikasi dan kedekatan hati,” ujar Ustadz Anggit.

Ketiga, menanamkan ketaatan kepada Allah sejak dini. Nabi Ismail, lanjut dia, dididik sejak kecil menjadi pribadi yang kuat iman, ibadah, dan akhlaknya.

Ia juga menegaskan bahwa tantangan mendidik anak pada era media sosial semakin berat. Karena itu, keluarga harus menjadi tempat tumbuh yang aman dan nyaman dengan suasana iman dan ketakwaan.

Dalam khutbahnya, Ustadz Anggit turut mengutip pandangan Ali bin Abi Thalib tentang pola pendampingan anak berdasarkan usia. Pada usia 0–7 tahun, anak diperlakukan layaknya raja untuk membangun kedekatan keluarga. Usia 7–14 tahun, anak mulai dibentuk dengan disiplin agar memiliki karakter kuat. Sedangkan usia 14 tahun ke atas, anak diajak berdialog dan menjadi sahabat dalam komunikasi.

Menutup khutbahnya, ia mengajak jamaah menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperbaiki diri dan memperkuat keluarga sebagai benteng moral generasi penerus.

“Keluarga harus menjadi tempat tumbuh dan berkembang yang aman dan nyaman agar lahir generasi seperti Nabi Ismail, generasi yang kuat iman dan akhlaknya,” tuturnya.

admin

By admin

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *