Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kemajuan materi tidak selalu sejalan dengan ketenteraman jiwa. Seseorang bisa memiliki banyak hal, tetapi tetap merasa cemas, lelah, dan kehilangan makna. Keadaan ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh harta, jabatan, atau pengakuan manusia. Dalam pandangan Islam, kehidupan yang baik berakar pada iman, amal saleh, dan hati yang dekat kepada Allah.
Janji Allah dalam Al-Qur’an
Allah SWT memberikan janji tentang kehidupan yang baik melalui Surah An-Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Ayat ini menegaskan dua landasan utama hayatan thayyibah: iman yang benar dan amal saleh. Keduanya saling berkaitan. Iman bukan hanya keyakinan di dalam hati, tetapi juga mendorong lahirnya tindakan yang baik. Sebaliknya, amal saleh menjadi wujud nyata dari iman dalam kehidupan sehari-hari.
Imam Ahmad dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits agung dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash r.a., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh sangat beruntung orang yang memeluk Islam, dianugerahi rezeki yang mencukupi kebutuhan (kafafan), dan Allah mengaruniakan ke dalam hatinya sifat qana’ah (merasa puas dan cukup) terhadap apa yang Dia berikan kepadanya.” [HR. Muslim no. 1054 & HR. Ahmad]
Ibnu Katsir dalam menafsirkan An-Nahl 97 mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Anas bin Malik r.a.:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ الْمُؤْمِنَ حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُثَابُ عَلَيْهَا فِي الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi kebaikan seorang mukmin; Dia memberikan balasan atas kebaikannya itu di dunia (berupa kebaikan hidup) dan memberikan pahala atasnya kelak di akhirat.” [HR. Ahmad & HR. Muslim]
Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah
الْحَيَاةُ الطَّيِّبَةُ هِيَ الْقَنَاعَةُ
“Kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) itu intinya adalah qana’ah (merasa cukup dan rela menerima bagian rezeki dari Allah).” [Atsar Sahabat – Riwayat Ali bin Abi Thalib]
Sayyidina Ali menegaskan bahwa seseorang tidak memerlukan istana megah untuk menikmati hidup. Cukuplah hati yang qana’ah, maka sebutir kurma dan seteguk air akan terasa laksana perjamuan raja, sebab jiwa telah kenyang dengan keridhaan.
Iman yang Hidup dalam Amal Saleh
Iman menumbuhkan kesadaran bahwa hidup memiliki tujuan dan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dari iman lahir kejujuran, amanah, kasih sayang, dan kesediaan memperbaiki diri. Karena itu, amal saleh tidak terbatas pada ibadah ritual seperti salat dan puasa. Ia juga hadir dalam kejujuran berdagang, keadilan memimpin, kesungguhan menuntut ilmu, pekerjaan yang dilakukan secara profesional, kepedulian kepada kaum lemah, serta upaya menjaga keharmonisan keluarga dan masyarakat.
Al-Qur’an juga menyebut laki-laki dan perempuan secara setara dalam janji ini. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menempuh jalan kebaikan dan memperoleh karunia Allah. Yang menjadi ukuran bukan jenis kelamin atau status sosial, melainkan iman dan amal yang dilakukan.
Apa Makna Hayatan Thayyibah?
Para mufasir menjelaskan hayatan thayyibah dengan beragam penekanan yang saling melengkapi. Kehidupan yang baik bukan selalu berarti hidup tanpa kesulitan atau memiliki kekayaan berlimpah. Maknanya mencakup kecukupan lahir, ketenteraman batin, dan hubungan spiritual yang kuat dengan Allah.
- Rezeki yang halal dan berkah. Harta yang diperoleh melalui jalan yang baik memberi ketenangan dan menjaga martabat. Kecukupan yang halal lebih bernilai daripada kelimpahan yang diraih dengan cara curang.
- Qana’ah dan rasa syukur. Qana’ah adalah kemampuan merasa cukup atas rezeki yang Allah berikan, tanpa berhenti berusaha. Sikap ini membebaskan hati dari keserakahan dan perlombaan gengsi.
- Ketenangan jiwa. Kedekatan kepada Allah, ketaatan, dan tawakal membantu seseorang menghadapi perubahan hidup dengan hati yang lebih lapang.
- Kemanisan ibadah. Ibadah tidak semata-mata dirasakan sebagai kewajiban, tetapi juga menjadi jalan mengenal Allah, menguatkan jiwa, dan menumbuhkan keteguhan.
- Kebahagiaan akhirat. Kehidupan yang baik di dunia menjadi bagian dari karunia Allah, sementara kesempurnaan kebahagiaan dijanjikan di akhirat, dalam kehidupan surga yang kekal.
Kaya Hati, Bukan Sekadar Kaya Harta
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keberuntungan tidak hanya diukur dari banyaknya harta. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau menyampaikan bahwa beruntunglah orang yang memeluk Islam, memperoleh rezeki yang mencukupi, dan dianugerahi sifat qana’ah atas pemberian Allah. Dalam hadis sahih lainnya, kekayaan sejati disebut sebagai kekayaan jiwa.
Pesan ini bukan ajakan untuk bermalas-malasan atau berhenti memperbaiki kehidupan. Islam mendorong umatnya untuk bekerja, berikhtiar, dan memberi manfaat. Qana’ah berarti tidak membiarkan keinginan memiliki lebih banyak menguasai hati. Seseorang tetap berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaannya pada hasil, pujian, atau perbandingan dengan orang lain.
Berikhtiar, Lalu Bertawakal
Hidup di dunia tidak pernah bebas dari ujian. Kesulitan, perubahan, dan hasil yang tidak sesuai harapan merupakan bagian dari perjalanan manusia. Karena itu, hayatan thayyibah bukanlah kehidupan tanpa masalah, melainkan kehidupan yang tetap memiliki arah dan keteguhan ketika masalah datang.
Ada hal-hal yang berada dalam wilayah ikhtiar kita: meluruskan niat, menjaga iman, memilih tindakan yang benar, bekerja dengan jujur, memperbaiki akhlak, dan menunaikan tanggung jawab. Namun hasil akhir, penilaian orang lain, serta berbagai keadaan di luar kemampuan kita tidak selalu dapat diatur. Seorang mukmin berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan tawakal, qana’ah, dan prasangka baik kepada-Nya.
Dengan demikian, tawakal bukan sikap pasif. Ia adalah ketenangan yang tumbuh setelah ikhtiar sungguh-sungguh. Kita tetap bekerja dan berbuat baik, tetapi tidak membiarkan kegagalan atau keberhasilan duniawi menjadi satu-satunya ukuran nilai diri.
Empat Langkah Menjemput Kehidupan yang Baik
- Merawat keimanan. Menjaga tauhid, memperkuat keyakinan, dan menghadirkan Allah dalam niat serta keputusan sehari-hari.
- Memperbanyak amal saleh. Melakukan kebaikan yang nyata, bermanfaat bagi sesama, dan dikerjakan dengan ikhlas serta sungguh-sungguh.
- Melatih qana’ah dan syukur. Mensyukuri rezeki yang halal, mengurangi ketamakan, dan tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan diri.
- Menguatkan ikhtiar dan tawakal. Fokus pada hal yang dapat diperbaiki, menerima hasil dengan lapang dada, serta terus belajar dari setiap keadaan.
Penutup: Kebahagiaan yang Berakar pada Iman
Hayatan thayyibah bukan janji bahwa setiap orang beriman akan selalu hidup mewah atau terbebas dari kesedihan. Ia adalah karunia kehidupan yang baik: rezeki yang halal, hati yang bersyukur, jiwa yang tenteram, ibadah yang menghidupkan, serta kemampuan tetap berbuat benar di tengah ujian. Kebahagiaan itu tumbuh ketika iman diwujudkan dalam amal saleh dan hati tidak diperbudak oleh dunia.
Mari kita terus memperbaiki iman, menebarkan manfaat, mensyukuri karunia Allah, dan menyerahkan hasil ikhtiar kepada-Nya. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
![Pimpinan Cabang Muhammadiyah [PCM] Bantul](https://pcmbantul.id/wp-content/uploads/2023/10/pcm-bantul.png)