Pernahkah kita berhenti sejenak untuk menilai cara kita menyelesaikan pekerjaan? Mulai dari salat, menjalankan amanah di tempat kerja, mendidik anak, hingga mengurus rumah, semuanya layak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Namun, dalam keseharian, sikap “yang penting selesai” atau “yang penting gugur kewajiban” masih kerap muncul.
Kerapian, kedisiplinan, ketepatan, dan mutu tinggi kadang dianggap hanya penting dalam urusan profesional. Padahal, Islam adalah agama yang menyeluruh. Kualitas tidak semestinya dipisahkan dari ibadah maupun aktivitas sehari-hari. Dalam khazanah Islam, kesungguhan untuk mengerjakan sesuatu secara baik dan tuntas dikenal dengan istilah itqan.
Apa Makna Itqan?
Secara bahasa, itqan berasal dari kata:
إِتْقَانًا – يُتْقِنُ – أَتْقَنَ
Kata ini bermakna melakukan sesuatu dengan sempurna, teliti, rapi, kokoh, dan profesional. Di dalamnya terkandung kesungguhan (al-jiddiyah), keteraturan, kedisiplinan yang konsisten, serta kemampuan menjalankan pekerjaan dengan mutu yang baik. Orang yang mengamalkan prinsip ini disebut mutqin.
Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan keteraturan ciptaan Allah sebagai tanda kebesaran-Nya. Allah berfirman dalam QS. An-Naml ayat 88:
صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ
Artinya: “(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh (atqana) tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml: 88)
Keteraturan ciptaan Allah menjadi pengingat agar manusia juga menjalankan amanah dengan baik, teliti, bertanggung jawab, dan tidak asal-asalan.
Itqan adalah Amal yang Dicintai Allah
Rasulullah SAW menegaskan keutamaan melakukan pekerjaan dengan itqan:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja atau beramal, ia melakukannya secara itqan (profesional, teliti, dan menyempurnakannya).” (HR. Al-Baihaqi)
Pesan ini menegaskan bahwa seorang Muslim tidak cukup hanya menyelesaikan tugas. Ia perlu mengerjakannya dengan dedikasi, kecakapan, dan tanggung jawab. Itqan bukan berarti harus selalu menghasilkan sesuatu yang tanpa kekurangan, melainkan berusaha sebaik mungkin sesuai ilmu, kemampuan, dan amanah yang diberikan.
Iman pun semestinya tampak dalam tindakan. Al-Hasan al-Basri rahimahullah menyampaikan:
لَيْسَ الْإِيمَانُ بِالتَّمَنِّي وَلَا بِالتَّحَلِّي، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ
Artinya: “Iman itu bukanlah sekadar angan-angan atau sekadar hiasan (penampilan luar), melainkan apa yang tertanam kuat di dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan.”
Karena itu, amal yang menjadi bukti iman perlu dijalankan dengan kualitas yang baik. Itqan menuntut pikiran yang terarah, fokus, koordinasi yang baik, dan kesediaan mencurahkan kemampuan terbaik. Sebaliknya, kelalaian yang dibiarkan dapat merusak mutu pekerjaan dan kepercayaan orang lain.
Dalam naskah sumber, Imam al-Qari (Mulla Ali al-Qari) mengingatkan:
الْعَمَلُ بِالتَّقْصِيرِ يَدُلُّ عَلَى ضَعْفِ الْإِيمَانِ
Artinya: “Pekerjaan yang dilakukan dengan ceroboh (asal-asalan) mencerminkan lemahnya iman.”
Itqan dalam Keluarga dan Masyarakat
1. Dalam kehidupan keluarga
Keluarga adalah madrasah pertama. Mendidik anak dengan itqan berarti mendampingi tumbuh kembang mereka melalui ilmu, kesabaran, kasih sayang, dan keteladanan yang konsisten. Mengelola rumah tangga dengan baik juga berarti menjaga kerapian, kenyamanan, dan keharmonisan hubungan.
2. Dalam kehidupan bermasyarakat
Itqan menjadi bagian penting dari kepercayaan dan kesejahteraan sosial. Dokter perlu teliti merawat pasien, guru bersungguh-sungguh mendidik murid, pegawai melayani masyarakat dengan ramah dan tepat, serta pedagang bertransaksi secara jujur. Ketika setiap orang menjaga mutu amanahnya, kehidupan bersama akan menjadi lebih kuat.
3. Dalam ibadah dan pekerjaan
Tidak semestinya ada pemisahan antara kesalehan ritual dan mutu kerja sehari-hari. Salat, dakwah, mencari nafkah, melayani keluarga, belajar, dan bekerja sama-sama perlu dilandasi niat yang baik serta dilaksanakan dengan tanggung jawab. Profesionalitas bukan lawan dari keikhlasan; keduanya dapat saling menguatkan.
Mengatasi Kebiasaan Asal-asalan
Dua hal yang perlu diwaspadai ialah beramal tanpa ilmu dan tidak konsisten menjaga mutu. Tanpa pengetahuan yang memadai, niat baik bisa berujung pada kesalahan. Sementara itu, semangat yang hanya muncul sesekali membuat kualitas sulit terjaga.
Ada empat langkah praktis untuk membangun kebiasaan itqan:
- Meluruskan niat. Jadikan pekerjaan, pelayanan kepada keluarga, dan ibadah sebagai jalan mencari rida Allah. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya: “Sesungguhnya semua amal itu ditentukan nilainya oleh niat.”
- Terus meningkatkan ilmu. Kualitas pekerjaan sulit dicapai tanpa pengetahuan yang cukup. Nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi’i berbunyi:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Artinya: “Barangsiapa menginginkan dunia wajib berilmu, akhirat wajib berilmu, dan keduanya wajib berilmu.”
- Merencanakan pekerjaan dengan matang. Atur waktu dan susun langkah kerja secara teratur. Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Artinya: “…dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…”
- Menjaga konsistensi. Jangan hanya bersemangat di awal. Rawat mutu amal secara berkelanjutan. Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.”
Menjadikan Itqan sebagai Budaya
Itqan bukan sekadar istilah yang indah atau tema ceramah. Ia harus menjadi kebiasaan: datang tepat waktu, menepati janji, menyiapkan pekerjaan dengan baik, memeriksa hasil sebelum diserahkan, mau belajar dari kekeliruan, dan tidak mengabaikan detail yang penting.
Mulailah dari amanah yang paling dekat. Kerjakan dengan niat ikhlas, bekali diri dengan ilmu, rencanakan langkahnya, lalu jaga konsistensi. Tidak semua hasil akan sempurna, tetapi setiap pekerjaan dapat menjadi lebih baik ketika dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Itqan adalah wujud kesungguhan iman: bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan, melainkan menunaikan amanah dengan mutu terbaik yang mampu kita upayakan.
![Pimpinan Cabang Muhammadiyah [PCM] Bantul](https://pcmbantul.id/wp-content/uploads/2023/10/pcm-bantul.png)