Umur panjang merupakan nikmat yang patut disyukuri. Namun, dalam pandangan Islam, nilai kehidupan tidak semata-mata diukur dari lamanya seseorang hidup, melainkan juga dari kualitas amal yang dikerjakan selama diberi kesempatan oleh Allah.
Lalu, bagaimana agar waktu yang terus berjalan menjadi sumber keberkahan? Artikel ini merangkum lima ikhtiar yang dapat kita biasakan: menumbuhkan kebiasaan baik, mengevaluasi diri, memperbanyak doa, memanfaatkan waktu, serta meluruskan niat dan mengikhlaskan amal. Kelima langkah ini mengajak kita menjalani usia dengan lebih sadar, produktif, dan dekat kepada Allah.
Dalam sebuah dialog dengan orang badui, Rasululloh pernah ditanya:
أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمُرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ
Seorang arab badui berkata; Wahai Rasul siapakah manusia yang terbaik? Maka Rasul saw bersabda: Siapa yang panjang usianya dan baik amalnya. (HR. at-Turmudzi)
Pertama : تَعْوِيدُ النَّفْسِ عَلَى الْخَيْرِ Ta‘wīdu an-Nafsi ‘alā al-Khair
Membiasakan Diri Melakukan Kebaikan
Umur akan menjadi berkah ketika hari-hari kita dipenuhi dengan kebaikan. Kebaikan bukan hanya sesuatu yang dilakukan sesekali, tetapi harus dilatih, diulang, dan dijadikan kebiasaan.
Abdullah bin Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata:
تَعَوَّدُوا الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ عَادَةٌ
“Biasakanlah kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu dapat menjadi kebiasaan.”
Kedua: مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ Muḥāsabatu an-Nafsi
Mengintrospeksi dan Mengevaluasi Diri
Umur yang berkah membutuhkan muhasabah. Kita tidak hanya sibuk melihat kesalahan orang lain, tetapi juga berani melihat dan memperbaiki kesalahan diri sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu juga mengingatkan:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang.”
Ketiga: الإِكْثَارُ مِنَ الدُّعَاءِ Al-Iktsāru minad-Du‘ā’
Memperbanyak Doa kepada Allah ﷻ
Umur yang berkah bukan semata-mata hasil usaha manusia. Kita harus memohon kepada Allah ﷻ agar setiap waktu yang diberikan-Nya menjadi waktu yang penuh manfaat dan keberkahan.
Salah satu doa yang terdapat dalam materi:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا
“Ya Allah, berkahilah umur kami.”
اللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمُوْرَنَا فِي طَاعَتِكِ وَطَاعَةِ رَسُولِكِ وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Allahumma thowwil ‘umuurona fii thaa’atika wa thaa’ati rasuulika waj’alnaa min ‘ibaadikash shaalihiin.
“Ya Allah, panjangkanlah umur kami dalam menaati-Mu dan menaati rasul-Mu, serta jadikanlah kami dari golongan hamba-hamba-Mu yang salih.”
اَللّٰهُمَّ طَوِّـلْ عُمُوْرَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَقَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ
Allaahumma thowwil umuurona, wa shohhih ajsaadana, wa nawwir quluubana, wa sabbit iimaananaa wa ahsin a’maalanaa, wa wassi’ arzaqonaa, wa ilal khoiri qorribnaa wa ‘anisy-syarri ab’idnaa, waqdhikhawaa-ijana fiddiini waddunyaa wal aakhirati innaka ‘alaa kulli syai-in qodiir.
“Ya Allah, panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam agama, dunia, dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Keempat: حُسْنُ اسْتِغْلَالِ الْوَقْتِ Ḥusnu Istighlāli al-Waqt
Memanfaatkan Waktu dengan Sebaik-baiknya
Waktu adalah modal kehidupan yang tidak dapat dikembalikan. Ketika satu menit berlalu, sesungguhnya sebagian umur kita juga telah berlalu.
Isi waktu dengan:
ذِكْرٌ — عِبَادَةٌ — عِلْمٌ — عَمَلٌ صَالِحٌ — نَفْعٌ لِلنَّاسِ
Dzikir — ibadah — ilmu — amal saleh — memberi manfaat kepada manusia.
Kelima: صِدْقُ النِّيَّةِ وَالإِخْلَاصُ لِلَّهِ
Ṣidqu an-Niyyah wal-Ikhlāṣu Lillāh
Meluruskan Niat dan Mengikhlaskan Amal karena Allah
Ibnu ‘Athaillah rahimahullah berkata:
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ
“Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat.”
Karena itu, sebelum melakukan amal, luruskan niat. Ikhtiar kita supaya Panjang umur dan berkah
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang hendak di luaskan rizkinya dan diberi keberkahan dalam usianya hendaknya dia menyambung tali silaturrahim.” (HR. Muslim)
Pada akhirnya, umur yang berkah bukan sekadar umur yang panjang, tetapi umur yang diisi dengan ketaatan, amal saleh, dan manfaat bagi sesama. Semoga Allah membimbing kita untuk menggunakan setiap kesempatan hidup sebaik-baiknya.
![Pimpinan Cabang Muhammadiyah [PCM] Bantul](https://pcmbantul.id/wp-content/uploads/2023/10/pcm-bantul.png)