Hidayah adalah karunia Allah. Tugas kita adalah berikhtiar menyampaikan kebaikan, berdoa, memperbaiki diri, dan mengisi hari ini dengan amal yang bermanfaat.
Ada kalanya kita begitu berharap seseorang yang kita cintai berubah menjadi lebih baik: keluarga, sahabat, atau orang-orang yang dekat dengan kita. Kita menasihati, memberi contoh, dan mendoakannya, tetapi hasilnya tidak selalu sesuai harapan. Dalam keadaan seperti itu, kita perlu mengingat bahwa hidayah bukan sesuatu yang dapat dipaksakan. Kita bertugas menyampaikan kebenaran dengan bijaksana, sedangkan terbukanya hati berada dalam kekuasaan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Kesadaran tentang hidayah semestinya tidak membuat kita pasif. Justru, ketika memahami batas kemampuan diri, kita terdorong untuk lebih tekun berdoa, memperbaiki akhlak, mengendalikan hawa nafsu, dan menggunakan waktu yang tersedia untuk berbuat baik. Inilah rangkaian pesan yang saling berkaitan: memohon hidayah, menerima keterbatasan diri, lalu menjalani hidup dengan amal yang nyata.
1. Hidayah: Karunia yang Harus Dimohonkan
Di antara doa yang diajarkan dalam sumber tulisan ini adalah permohonan agar Allah menganugerahkan hidayah, ketakwaan, penjagaan diri, dan kecukupan. Doa ini mengingatkan bahwa manusia membutuhkan bimbingan Allah dalam menjalani kehidupan.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, perlindungan diri, dan kecukupan.”
Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketika Allah menghendaki seseorang memperoleh petunjuk, Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Hidayah bukan sekadar mengetahui mana yang benar, melainkan juga terbukanya hati untuk menerima dan menjalankan kebenaran.
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.”QS. Al-An‘ām [6]: 125
Karena itu, seorang Muslim tidak selayaknya merasa mampu menguasai hati orang lain. Kita boleh berharap, menasihati, dan menunjukkan teladan, tetapi tetap harus menyadari bahwa hidayah adalah karunia Allah yang perlu dimohonkan dengan sungguh-sungguh.
2. Bahkan Orang yang Dicintai Tidak Bisa Dipaksa Menerima Hidayah
Pelajaran penting tentang batas ikhtiar manusia terlihat dalam kisah Nabi Muhammad ﷺ dan pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib pernah memberikan perlindungan kepada Nabi, dan Nabi sangat menyayanginya. Namun, ketika Abu Thalib meninggal tanpa memeluk Islam, Nabi merasa sedih. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kedekatan, kasih sayang, dan besarnya usaha seseorang tidak menjamin orang lain akan menerima petunjuk.
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 56
Ada dua bentuk hidayah.
Pertama, hidayah irsyādī, yaitu menunjukkan jalan, menyampaikan penjelasan, dan memberi contoh; hal ini dapat dilakukan manusia melalui dakwah dan keteladanan.
Kedua, hidayah taufīqī, yaitu pertolongan Allah yang membuat seseorang menerima petunjuk dan dimampukan untuk mengamalkannya. Hidayah dalam pengertian kedua ini hanya berada dalam kuasa Allah.
Maka, jangan menjadikan penolakan orang lain sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik, dan jangan pula merasa paling berkuasa atas perubahan hati mereka. Sampaikanlah dengan santun, tunjukkan akhlak yang baik, doakan mereka, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah.
3. Jangan Habis dalam Penyesalan: Hari Ini Adalah Kesempatan
Setelah memahami bahwa hidayah tidak dapat dipaksakan, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang harus kita lakukan dengan waktu dan kemampuan yang kita miliki? Syekh Hasan al-Bashri mengingatkan bahwa kehidupan dapat direnungkan melalui tiga waktu: kemarin, esok, dan hari ini.
الدُّنْيَا ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ: أَمَّا أَمْسِ فَقَدْ ذَهَبَ بِمَا فِيهِ، وَأَمَّا غَدٌ فَلَعَلَّكَ لَا تُدْرِكُهُ، وَالْيَوْمُ لَكَ فَاعْمَلْ فِيهِ
“Dunia ini seakan hanya tiga hari: kemarin telah berlalu bersama segala yang ada di dalamnya; esok belum tentu engkau temui; dan hari ini adalah milikmu, maka beramallah di dalamnya.”
Nasihat yang dinisbatkan kepada Syekh Hasan al-Bashri dalam bahan sumber.
Kemarin tidak bisa diulang, sedangkan hari esok belum tentu menjadi milik kita. Yang dapat kita manfaatkan adalah hari ini. Jika belum berhasil mengajak seseorang kepada kebaikan, teruslah mendoakan dan memperbaiki cara menyampaikan. Jika pernah melakukan kesalahan, bertobatlah dan perbaiki langkah. Jangan sampai waktu habis untuk meratapi sesuatu yang berada di luar kendali, sementara kesempatan beramal di depan mata terabaikan.
4. Menjadi Manusia yang Bermanfaat
Salah satu bentuk nyata dari penggunaan waktu yang baik adalah menghadirkan manfaat bagi orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”HR. Ahmad,
Manfaat tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Ia dapat hadir melalui nasihat yang lembut, bantuan sederhana, ilmu yang dibagikan, pekerjaan yang ditunaikan dengan amanah, atau sikap yang membuat orang lain merasa aman. Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa kebaikan yang dilakukan pada hakikatnya kembali kepada pelakunya.
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ
“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.”QS. Al-Isrā’ [17]: 7
Karena itu, dakwah dan kepedulian sosial sebaiknya tidak berhenti pada keinginan agar orang lain berubah. Keduanya perlu diwujudkan dalam perilaku yang bermanfaat. Ketika kita belum mampu mengubah hati seseorang, kita tetap dapat menjadi sebab hadirnya kebaikan melalui sikap, perkataan, dan tindakan kita.
5. Mengendalikan Diri: Tanggung Jawab Setiap Pemimpin
Agar dapat memberi manfaat, seseorang perlu belajar mengendalikan dirinya sendiri. Setiap orang memimpin setidaknya dirinya, dan sebagian juga memikul tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan, atau masyarakat. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”HR. Bukhari dan Muslim.
Mengendalikan diri bukan berarti meniadakan emosi, melainkan mengarahkannya agar tidak melahirkan tindakan yang merugikan. Dua hal yang perlu mendapat perhatian adalah mengendalikan amarah dan menjaga lisan.
Mengendalikan amarah
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”HR. Bukhari dan Muslim.
Kekuatan sejati tampak ketika seseorang mampu menahan diri saat marah, padahal ia memiliki kesempatan untuk melampiaskannya. Menunda respons, memilih kata yang tepat, dan tidak mengambil keputusan saat emosi memuncak merupakan langkah sederhana untuk menjaga diri dan orang lain.
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat.”
Pesan utamanya jelas: menahan amarah karena Allah adalah akhlak yang mulia dan bernilai besar.
Menjaga lisan
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan yang didasarinya, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”HR. Bukhari
Ibadah tidak semestinya hanya tampak pada bentuk lahiriah, tetapi juga tercermin dalam kejujuran dan perilaku. Lisan yang tidak terjaga dapat melukai, memecah hubungan, dan merusak manfaat dari amal yang lain.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”HR. Bukhari dan Muslim.
Sebelum berbicara, kita dapat bertanya kepada diri sendiri: apakah perkataan ini benar, perlu, dan disampaikan dengan cara yang baik? Jika tidak membawa kebaikan, diam sering kali lebih selamat.
6. Kebahagiaan Berawal dari Kemampuan Menguasai Diri
Semua pesan di atas bertemu pada satu titik: manusia perlu menyadari batas kendalinya. Kita tidak berkuasa atas hati orang lain, tidak dapat mengembalikan waktu yang berlalu, dan tidak selalu mampu mengatur keadaan. Namun, kita dapat terus berdoa, memilih cara menyampaikan kebaikan, mengisi hari ini dengan amal, serta melatih diri agar tidak dikuasai amarah dan dorongan nafsu.
السَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ، وَالشَّقَاوَةُ فِي أَنْ تَمْلِكَهُ نَفْسُهُ
“Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai dirinya; kesengsaraan adalah ketika dirinya justru dikuasai oleh hawa nafsunya.”
Kutipan yang dinisbatkan kepada Imam al-Ghazali dalam *Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn*, sebagaimana dicantumkan dalam bahan sumber.
Menguasai diri berarti menempatkan keinginan di bawah tuntunan iman dan akal sehat. Kita tidak berhenti berdakwah ketika belum melihat hasil, tidak memaksa orang lain mengikuti kehendak kita, dan tidak membiarkan emosi merusak lisan maupun tindakan. Kita berusaha pada wilayah yang menjadi tanggung jawab kita, lalu bertawakal kepada Allah atas hasilnya.
Hidayah adalah karunia Allah yang patut terus kita mohonkan, untuk diri sendiri maupun orang-orang yang kita cintai. Tugas kita adalah menyampaikan kebaikan dengan hikmah, menunjukkan teladan, dan mendoakan. Sementara itu, kesempatan hidup yang masih diberikan hendaknya diisi dengan amal yang bermanfaat, lisan yang terjaga, dan hati yang dilatih untuk sabar.
Jangan habiskan tenaga untuk memaksa sesuatu yang berada di luar kendali kita. Gunakan tenaga itu untuk memperbaiki diri, menunaikan amanah, dan menebar manfaat. Semoga Allah melapangkan hati kita untuk menerima petunjuk, meneguhkan kita dalam ketakwaan, menjaga kehormatan diri, mencukupkan kebutuhan kita, serta menjadikan kita jalan kebaikan bagi sesama.
![Pimpinan Cabang Muhammadiyah [PCM] Bantul](https://pcmbantul.id/wp-content/uploads/2023/10/pcm-bantul.png)