Islam Berkemajuan: Material yang Bermakna, Spiritual yang Menghidupkan

Islam Berkemajuan merupakan ruh gerakan Muhammadiyah—sebuah ikhtiar menjadikan Islam hadir sebagai agama yang mencerahkan, membebaskan, dan memajukan kehidupan manusia. Berkemajuan tidak dimaknai semata sebagai capaian material: pembangunan fisik, kemajuan ekonomi, atau penguasaan teknologi. Lebih dari itu, Islam Berkemajuan menuntut keselarasan lahir dan batin, kemajuan akal sekaligus kejernihan hati. Material tanpa spiritual akan melahirkan kekosongan makna; spiritual tanpa ilmu dan kerja nyata berisiko menjauh dari realitas. Karena itu, kemajuan sejati adalah kemajuan yang utuh dan berimbang.

Al-Qur’an sejak awal mendorong umat Islam untuk bergerak maju secara menyeluruh. Allah berfirman:

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan memerintahkan kamu untuk memakmurkannya.”
(QS. Hūd: 61)

Ayat ini menegaskan misi peradaban (istikhlāf dan isti‘mār): membangun dunia dengan ilmu, kerja, dan tanggung jawab moral. Namun pada saat yang sama, Al-Qur’an juga mengingatkan agar kemajuan lahir tidak mematikan batin:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”
(QS. Asy-Syams: 9)

Integrasi Ilmu: Bayani, Burhani, dan Irfani

Islam Berkemajuan meniscayakan integrasi ilmu pengetahuan. Tradisi keilmuan Islam mengenal tiga pendekatan besar: bayani, burhani, dan irfani.
Bayani berakar pada teks wahyu—Al-Qur’an dan Sunnah—sebagai sumber nilai dan norma. Burhani bertumpu pada rasio, logika, dan ilmu empiris untuk membaca realitas secara objektif. Sementara irfani menekankan dimensi batiniah: penyucian jiwa, intuisi spiritual, dan kedalaman makna.

Ketiganya tidak boleh dipertentangkan. Bayani tanpa burhani berpotensi kaku; burhani tanpa bayani kehilangan arah etis; irfani tanpa keduanya rawan subjektivisme. Islam Berkemajuan memadukan ketiganya agar lahir ilmu yang mencerahkan dan amal yang menyejahterakan.

Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya keseimbangan ilmu dan iman:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Mājah)

Ilmu yang dimaksud bukan hanya pengetahuan teknis, tetapi juga ilmu yang membimbing manusia menuju kedewasaan moral dan spiritual.

Maqāmāt Spiritual: Jalan Kesadaran Menuju Puncak

Dalam khazanah tasawuf Sunni yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, para ulama seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa perjalanan spiritual (maqāmāt) dimulai dari kesadaran dan berproses secara bertahap. Dalam Madarij as-Salikin, beliau menguraikan bahwa jalan menuju Allah bukan lompatan instan, melainkan pendakian ruhani yang disiplin.

Tahapan awal adalah al-yaqẓah (kesadaran)—sadar akan tujuan hidup dan kefanaan dunia. Kesadaran ini melahirkan taubah, kembali kepada Allah dengan penyesalan yang jujur:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang tulus.”
(QS. At-Taḥrīm: 8)

Dari taubat, seorang hamba menapaki maqam ṣabr (kesabaran), zuhd (tidak diperbudak dunia), tawakkal, hingga maḥabbah (cinta kepada Allah). Puncaknya adalah riḍā—kerelaan hati yang melahirkan ketenangan dan kekuatan moral dalam menghadapi kehidupan modern yang serba cepat dan penuh kompetisi.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kualitas batin menentukan nilai amal:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Islam Berkemajuan adalah Islam yang berpijak di bumi dan terhubung ke langit. Ia membangun sekolah, rumah sakit, dan peradaban ilmu; sekaligus menumbuhkan kesadaran, akhlak, dan kedalaman spiritual. Berkemajuan lahir batin inilah yang menjadikan Islam relevan sepanjang zaman—menggerakkan amal nyata, tanpa kehilangan arah ilahiah.

admin

By admin

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *