Property : freepik.com

Bantul – Pentingnya ilmu dalam menjalankan ibadah menjadi penekanan utama dalam Kajian Subuh di Masjid Nurul Hidayah Karanggayam, Kamis (04/03/2026). Penceramah, Ustadz Izzuddien Sobri, S.Tr.Gz, selaku Sekretaris PCM Bantul, mengingatkan jamaah agar tidak hanya semangat beribadah, tetapi juga memahami landasan ilmunya.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Sobri menegaskan bahwa ibadah tanpa ilmu berpotensi tidak sesuai tuntunan Rasulullah. Ia mengajak jamaah untuk terus menuntut ilmu agar setiap amal yang dilakukan benar secara syariat dan bernilai maksimal di sisi Allah.

Untuk menguatkan pesan tersebut, ia mengisahkan hubungan penuh adab antara Imam Syafi’i dan muridnya, Imam Ahmad bin Hanbal. Kisah keduanya menjadi teladan tentang kerendahan hati, rasa hormat, dan kecintaan mendalam terhadap ilmu.

Dikisahkan, suatu hari Imam Syafi’i berkunjung ke rumah Imam Ahmad dan bermalam di sana. Putri Imam Ahmad yang penasaran ingin mengetahui aktivitas ulama besar yang sangat dikagumi ayahnya itu pun memperhatikan apa yang dilakukan sang tamu hingga waktu fajar.

Namun, ia menemukan tiga hal yang dianggapnya janggal.
“Pertama, ia makan begitu banyak, berbeda dengan yang engkau ceritakan. Kedua, ia tidak salat malam selama berada di kamar. Ketiga, ia salat subuh berjamaah tanpa berwudu,” demikian pertanyaan sang putri kepada ayahnya.
Imam Ahmad kemudian menanyakan hal tersebut kepada Imam Syafi’i. Sang imam pun memberikan penjelasan.
Pertama, ia makan banyak karena mengetahui makanan yang dihidangkan berasal dari orang yang halal dan dermawan. “Makanan orang bakhil adalah penyakit, sedangkan makanan orang dermawan adalah obat,” jelasnya.
Kedua, ia tidak melaksanakan salat malam karena sepanjang malam memikirkan 72 persoalan fikih untuk kemaslahatan umat Islam.
Ketiga, ia tidak berwudu lagi saat Subuh karena tidak tidur semalaman, sehingga wudu Isya masih terjaga.
Mendengar penjelasan itu, Imam Ahmad menyampaikan kepada putrinya bahwa apa yang dilakukan Imam Syafi’i—memikirkan ilmu untuk umat—lebih mulia daripada salat malamnya.

Ustadz Sobri menegaskan, kisah tersebut menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam. Tanpa ilmu, seseorang bisa keliru dalam menjalankan ibadah.
Ia mencontohkan praktik yang kerap terjadi di masyarakat, seperti pelaksanaan salat Isya yang langsung dilanjutkan dengan tarawih, namun mengabaikan salat sunah ba’diyah Isya. Padahal, menurutnya, derajat ibadah tersebut lebih utama dibandingkan tarawih yang hukumnya sunah muakkadah di bulan Ramadan.
“Ibadah harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah. Semangat saja tidak cukup, harus dibarengi dengan pemahaman,” tegasnya di hadapan jamaah.

Kajian ditutup dengan harapan agar jamaah semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ilmu agama, sehingga setiap ibadah yang dilakukan benar, tepat, dan bernilai di sisi Allah SWT.

admin

By admin

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *